Mengenal Lebih Dekat Ereveld Pandu #EREVELDSERIES

February 06, 2018


Apa yang terlintas dalam benak kalian tentang 'kuburan'? Kebanyakan tentang horor dan mistis. Padahal menurut saya, masa lalu lebih horor daripada kuburan. Apalagi kalau kita tidak bisa move on dari masa lalu. Itu dijamin horor banget dan bisa menghantui seumur hidup.

Pada beberapa postingan sebelumnya, saya sudah membahas tentang kuburan-kuburan cantik nan ciamik yang kesannya jauh dari horor, yaitu Ereveld, yang artinya Taman Kehormatan.


Kalau sebelumnya saya sibuk membahas Ereveld yang ada di Jakarta, kali ini, saya akan bercerita tentang pemakaman yang terletak di kota kembang nan cantik jelita, yaitu Bandung! Ya pastinya harus bahas yang di luar Jakarta, karena yang di Jakarta kan sudah disinggahi keduanya. Maka dari itu Bandung menjadi pilihan selanjutnya dalam petualangan saya menyinggahi Ereveld yang ada di Indonesia.

Baca juga : Tiga Tempat Wisata Gratis, Berdekatan, dan Instagramable di Bandung


Pasti kalian heran kan, kenapa saya suka banget main ke kuburan? Ih enggak usah ditanya! Saya saja heran banget kenapa saya sesuka itu main ke kuburan. 

Ada dua Ereveld yang terdapat di Bandung, yaitu Ereveld Pandu dan Ereveld Leuwi Gajah. Ereveld Pandu ini berada di tengah-tengah kompleks pemakaman yang terletak di Jalan Pandu, Bandung. 

Sekilas tampak sangat berbeda. Karena pemakaman milik Belanda ini, merupakan komplek tersendiri lagi di dalam komplek pemakaman Pandu. Terpisahkan oleh gerbang tinggi yang bertuliskan Ereveld Pandu di kanan dan kirinya. Merekalah yang akan menyambut kita saat pertama kali menginjakan kaki di muka gerbang Ereveld Pandu. 

Sumber gambar findagrave.
Setiap tempat memiliki peraturan masing-masing. Dan, peraturan yang ada di Ereveld Pandu tak jauh berbeda dengan peraturan di Ereveld lainnya, seperti; tidak boleh berfoto dengan nisan yang ada namanya, harus berpakain sopan, dan tidak boleh berisik di area komplek pemakaman. Memiliki jam berkunjung yaitu dari Senin-Sabtu, dari pukul 07.00-18.00. 

Saat melangkahkan kaki kedalam Ereveld ini, kita akan disambut pepohonan kanan kiri yang cukup menyegarkan mata. Saya sempat amnesia sesaat, ini saya ke kuburan atau ke hati si dia. Kok isinya pepohonan yang indah nan rupawan ya. Lalu langsung teringat, memang seperti ini Ereveld. Indah, rapi, juga jauh dari mistis.

  

Jalan setapak nan indah itu, akan mengantarkan kita semua ke sebuah monumen yang tepat berada dalam garis lurus dari pintu gerbang. Bertuliskan "OPGERICHT TER GEDACHTENIS AAN HEN DIE VIELEN ALS OFFER IN DE STRIJD OM VREDE EN RECHT." Yang artinya, "Didirikan untuk mengenang orang-orang yang jatuh sebagai pengorbanan dalam perjuangan untuk perdamaian dan keadilan." 



Memiliki tanah seluas 3,5 ha dengan 4000 makam yang terdapat di dalamnya. Tidak hanya makam KNIL, tetapi banyak juga pribumi lain dikuburkan di sana. 

Selain monumen yang dijelaskan di atas, ada juga Monumen Padalarang yang dibangun untuk mengenang tragedi jatuhnya pesawat KLM DC-3 bernomor penerbangan DT-947 di dekat Padalarang pada 10 Februari 1948, menewaskan tiga pemusik Belanda yaitu; pianis Elisabeth Everts (28 tahun), pemain cello Johan Gutlich (36 tahun), dan violis Rudi Broer Van Dijk (22 tahun)..  Selain itu Wolff Schoemaker, arsitek Belanda yang merancang desain sejumlah bangunan terkenal di Kota Bandung, juga dimakamkan di Ereveld Pandu.

Terdapat juga sebuah prasati yang bertuliskan "TER EERBIEDIGE NAGEDACHTENIS AAN DE VELE ONGENOEMOEN DIE HUN LEVEN OFFERDEN EN NIET RUSTEN OP DEEREVELDEN." Yang artinya, "untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak bisa beristirahat di taman-taman kehormatan”.



Sebenarnya, cukup banyak gambar yang saya ambil. Namun, di dalam gambar-gambar tersebut, secara tak sengaja terselip juga gambar nisan lengkap dengan namanya. Maka dari itu saya tidak publikasikan dan saya hapus. Karena salah satu peraturan Ereveld sangatlah jelas, tidak boleh berfoto dengan nisan yang bertuliskan nama.

Ketika sedang asyik menjelajahi Ereveld Pandu, hujan turun dengan derasnya membuat saya harus menghentikan kegiatan. Maka dari itu, tidak semua bagian Ereveld bisa saya kunjungi. Membuat eksplorasi saya tidak selengkah dua Ereveld lainnya. Namun, semoga lain waktu dan lain kesempatan saya bisa mengunjungi tiap-tiap bagian yang ada di Ereveld Pandu ini, dengan kamu tentunya!

Salam, Pipi Bolong.

You Might Also Like

10 comments

  1. beuh... ini sih tempat aku kerja hahahaha

    ReplyDelete
  2. Waah, travelingnya ke kuburan, Mbak ... antimainstream.

    ReplyDelete
  3. hihihi, aku pribadi mau kaya apa indahnya tetep ngeri-ngeri sedep gtu sama pemakaman. hihi mbak ni ada2 aja deh jalan ke kuburan ;D

    ReplyDelete
  4. Laah ini di Indonesia, kirain di luar negeri, lho!

    Duuh, jadi pengen ke siniiiii... Ini beneran ya dibuka untuk umum, janji deh kalau ke sini gak foto sama nisan yang bernama ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya di Indonesia. Itu yg di Bandung. Ada 7 Ereveld di Indonesia.

      Delete
  5. Sesekali bertandang ke Jeruk Purut lah, pemakaman yang dekat rumahmu. Kayaknya di sekitar sana sudah ramai.

    ReplyDelete