Pulau Semak Daun, Solusi Liburan Tahun Baru Murah & Dekat.

December 06, 2017

Tak terasa sudah memasuki awal Desember, yang berarti akhir tahun 2017 sudah semakin dekat. Menjelang pergantian tahun biasanya sudah membuat rencana kemana akan berlibur tahun baru nanti. Ada yang berencana ke luar kota nun jauh dari hiruk pikuk ibukota, ada yang berencana mau di rumah saja. Semua tergantung selera masing-masing. Dan Kamu yang sedang melihat tulisan ini, sudah punya rencana kemana  liburan tahun baru nanti? 

Ngomong-ngomong soal rencana tahun baru, saya jadi teringat liburan tahun lalu. Saat itu kurang lebih tiga minggu saya dan beberapa teman dari Klub Buku & Blogger Backpaker Jakarta galau mau merencanakan tahun baru di mana. Dengan hari libur yang tidak banyak, serta budget terbatas. Maka terciptalah keputusan untuk berlibur ke Pulau Seribu.

Setelah drama liburan ke Pulau Seribu, muncul drama lainnya. Pulau mana yang mau dituju. Saya meminta Semak Daun, yang lain ada yang meminta Sepa, ada juga yang maunya di Bira, dan yang lainnya ada yang minta di Harapan. Pulau Harapan di gugusan kepulauan Seribu ya. Bukan harapan palsu. Dan akhirnya drama jatuh di pulau Semak Daun.

Setelah drama pemilihan pulau, muncul drama budget. Setelah hitung-hitung dengan penuh pengiritan, maka kami memutuskan untuk sharecost sekitar Rp 250.000. Dengan catatan tidur di tenda dan membawa beberapa logistik sendiri. Rincian keuangan akan saya perjelas sepanjang kisah ini. Jangan kemana-mana!

Setelah semua rampung, maka di list siapa saja yang mau ikut. Buat pengumuman kesana kemari mencari alamat, mencari pasukan sebanyak-banyaknya. Dengan total kuota 10 orang. Menjelang hari-H personil berubah-ubah. Ada yang mau ketempat dingin, ada yang mau tempat yang jauh, ada juga yang maunya di rumah saja sama si dia (padahal si dia belum tentu mau). 

Heran, belum jalan aja udah banyak drama. Kalah drama kisah kita yang putus nyambung bagaikan sinetron yang tidak selesai. 

Dermaga Kaliadem

Tanggal 31 Desember 2016, pukul 03.00 pagi, kami bersepuluh janjian di dermaga Kaliadem. Dengan harga Rp 45.000 per orang, kami menyebrang dari Kaliadem menuju Pulau Pramuka. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 3-4 jam. 

Sepanjang perjalanan awalnya dihiasi dengan berbagai macam tingkah oleh kesepuluh orang ini (termasuk saya). Sejam pertama tidur, setelah bosan tidur dihiasi dengan main uno. Teriak-teriak sampai jadi perhatian sekapal. Bosan main uno, ada yg ngegosip, ada yang tidur, ada juga yang godain cewek. Terserah mau main apa aja, asal jangan mainin hati si dia.

Pulau Pramuka

Tengah hari, kami sampai di pulau Pramuka. Pulau ini hanya tempat transit saja sebelum menuju Semak Daun. Dari sini, nanti kami akan menaiki kapal yang lebih kecil lagi untuk snorkling juga untuk menuju Semak Daun.

   
Pulau Pramuka merupakan pusat administratif dan Kepulauan Seribu. Kami menyempatkan diri untuk shalat dan membeli beberapa logistik bersama yang termasuk dalam sharecost. Saat itu kami membeli beberapa bungkus nasi dan aqua dengan harga Rp 80.000. Juga ditambah dengan setiap orang membeli nasi bungkus masing-masing untuk makan siang. Karena makan siang ini tidak termasuk sharecost. Harga berbeda-beda. Saat itu sepertinya saya kurang lebih menghabiskan Rp 15.000.

Dan, perjalanan diteruskan kembali. Kami menaiki perahu kecil. Dengan harga Rp 300.000 untuk satu perahu, harga tersebut untuk membawa kami snorkling terlebih dahulu juga membawa kami ke Semak Daun.

Tak jauh dari Pulau Pramuka, perahu berhenti. Dan langsung saja teman-teman saya terjun ke dalam air. Untuk alat snorkling sendiri, kami sewa dengan pemilik perahu kecil ini. Harganya Rp 30.000 per orang. Sudah masuk kedalam rincian sharecost, jadi tinggal santai saja.

Ngomong-ngomong, ini adalah pengalaman pertama saya snorkling. Jadi, saya lumayan takut pada awalnya. Namun, lama-lama jadi biasa dan tidak takut lagi.


Pulau Air

Setelah kurang lebih satu jam di daerah tak jauh dari Pulau Pramuka. Perahu kecil tersebut membawa kami ke gugusan pulau lainnya. yaitu perairan Pulau Air. Saya senang berenang di sini. Selain karena tidak terlalu dalam, airnya sangat jernih. Jadi dengan mata biasa bisa melihat ke dasar laut. Meski ada beberapa tempat yang dalam juga. Saya menghindari ke tempat tersebut.

Pulau Air ini jug menurut saya sangat bagus. Dua pulau dalam satu nama yang terpisahkan air. Pokoknya instagramable bangetlah pulau ini.



Pulau Semak Daun 

Setelah lebih dari sejam bermain-main Di Pulau Air, saatnya menuju Semak Daun. Namun, kami tidak langsung menuju pulau tersebut. Tapi bermain-main dulu di perairan sekitar pulau tersebut. Untuk di pulau ini, saya agak ngeri karena lumayan dalam. Saya yang tidak bisa berenang memilih untuk di perahu saja.

Hari pun sudah sore, karena sudah lelah dan sudah puas juga, maka kami tidak berlama-lama bermain airnya. Langsunglah kami menuju Semak Daun. Di Semak Daun sendiri untuk simaksi dikenakan Rp 35.000 per orang dan sudah masuk juga ke dalam biaya sharecost.

Sesampainya di sana, sudah sangat sore. Kami pun segera mencari spot untuk mendirikan tenda. Tapi ternyata sudah ramai sekali. Untungnya masih mendapatkan tempat. Setelah beres-beres lokasi camp, juga beres-beres badan setelah snorkling tadi, kami segera menuju ke pinggir pulau. Ceritanya mau lihat sunset. Senja terakhir di 2016 kerennya!

Puas dengan sunset, kegiatan selanjutnya adalah masak-masak untuk makan malam. Masing-masing sudah membawa bahan logistik bersama. Ada yang bawa indomie, sarden, dan lainnya. tinggal dimasak lalu dihidangkan. Murah meriah, kenyang.

Sambil menunggu pukul 12.00, kami bermain truth or dare. Saya main aman selalu mengambil dare. Dan kena dikerjain habis-habisan. Disuruh kenalan sama anak tenda sebelah lah, inilah itulah, bagaikan bidadari pulau kesana kemari.

Lalu tanpa disengaja lanjut dengan quality time. Sayang banget, pas quality time ini saya malah ketiduran di atas matras. Padahal sayup-sayup saya dengar mereka membahas tentang hijrah.

Menjelang tengah malam, saya terbangun. Banyak suara petasan sana-sini. Saya fikir percuma banget cuma di tenda. Mana panas pula. Maka dari itu saya mengajak teman-teman saya ke pinggir pulau. Melihat kembang api, dan petasan sana-sini.

Puas dengan hiburan lokal, enggan rasanya balik ke tenda. Maka kami pun sepakat untuk tidur di pinggir pantai, namun tidak semua. Ada satu orang yang lebih memilih tidur sekitar tenda, untuk berjaga-jaga.

Dengan beralaskan matras, juga ada yang menggunakan sleeping bag. Saya sih tidak karena tidak membawa sleeping bag. Pengalaman tidur di pantai itu hawanya terasa panas.

Keesokan harinya, pagi-pagi kami segera berkemas dan bersiap-siap untuk kembali ke Pulau Pramuka. Dengan seadanya, tanpa sarapan dan tidak mandi, kami bergegas kembali ke Pulau Pramuka. Biaya yang digunakan adalah Rp 300.000 untuk satu perahu. Jadi pulang pergi Pulau Pramuka - Pulau Semak Daun merogoh kocek  sebesar Rp 600.000.

Sesampainya di Pulau Pramuka, segera saja kami menuju masjid pulau tersebut untuk mandi seadanya. Segar sekali rasanya bisa bertemu dengan air lagi. Setelah itu kami sarapan sekaligus makan siang di Pulau Pramuka. Tidak termasuk dalam biaya sharecost karena memang sudah diperhitungkan. Lagi-lagi makan saya kurang lebih sekitar Rp 15.000. maklum, saya kan pelit jadi irit.

Setelah puas mengisi perut, kami pun segera kembali ke kapal. Dengan harga Rp 45.000 per orang. Kapal tersebut akan berhenti di Kaliadem. Tempat berlabuh hati ini. Eh, maksudnya berlabuh kembali ke Jakarta.

Untuk lebih jelasnya, total rincian perhitungan pemasukan dan pengeluaran untuk trip Pulau Semak Daun dengan total  10 orang seperti ini;

Pemasukan
Sharecost : Rp 250.000 x 10 = Rp 2.500.000

Pengeluaran
Tiket Berangkat : Rp  450.000 (Kaliadem – Pramuka)
Tiket Pulang : Rp  450.000 (Pramuka – Kaliadem)
Aqua dan Nasi : Rp  80.000
Perahu : Rp 600.000 (Pramuka – Semak Daun PP)
Alat snorkle : Rp 240.000 (ada beberapa yang patungan satu set karena sudah memiliki alatnya)
Simaksi : Rp 350.000

TOTAL : Rp. 2.170.000
Sisa : Rp 330.000

Nah, bagaimana? Untuk kalian yang mau liburan murah dan dekat bisa menggunakan cara ini sebagai alternatif. Lumayan, bobonya ditemani oleh hamparan bintang di langit sana. Lebih enak lagi kalo bareng si dia sih. 

Baiklah, sampai jumpa lagi di trip galau berikutnya. Semoga tidak ditemani drama yang tiada berujung. Karena yang tidak berujung itu cuma kisah kita.

Salam, Pipi Bolong.

You Might Also Like

1 comments

  1. Kapan nih BPJ ke semak daun lagi? pengen banget nenda di Pulau ini.

    ReplyDelete