Langkah Dadakan Menuju Munara

September 02, 2016



Bukit, gunung laut, menjadi tempat tujuan setiap orang yang mencari ketenangan. Setiap orang punya cara dan tempat tersendiri untuk mencapai tenang. Tak terkecuali saya, si Miss galau ini.


Minggu lalu, galau saya mendadak kambuh. Ngeliat pemandangan dari atas gedung tinggi, enggak ampuh. Makan banyak tapi enggak gemuk-gemuk, dan malah sama aja. Ngeliat jalanan, eh macet dan ujungnya malah makin galau.


Akhirnya Jumat sore saya berencana untuk mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang. Bersama dua orang teman saya, kami memutuskan Sabtu akan menjadi ninja Hattori, bermain-main dan berpetualang ke Munara.


Munara sendiri merupakan salah satu gunung gemes (gunung yang tidak terlalu tinggi untuk pemula), terletak didaerah Kampung Sawah, Rumpin, Bogor.


Trip ini benar-benar dadakan dan memang direncanakan sehari sebelumnya, dengan sisa uang gaji seadanya dan juga persiapan yang ala kadarnya.


Perjanjian awalnya tertulis janjian jam 8, di pasar Parung. Tapi, janji hanyalah janji. Janji palsu, kayak kamu sukanya janji palsu aja. Ujungnya jam 9 baru pada ngumpul. Saya yang biasa on time udah menghabiskan semangkok soto ayam waktu nungguin mereka. Padahal cuma bertiga aja tapi ya namanya juga Indonesia. This is our bad culture!


Jam 9 teng kami semua menuju Rumpin menaiki angkot dari pasar Parung. Sempat ganti angkot 2 kali padahal seharusnya sekali aja bisa. Ternyata kalo mau ke Rumpin itu harus tanya dulu sama abang angkotnya, sampai rumpin atau enggak. Karena yang ke arah rumpin itu sedikit dan jarang. Kalo cuma berdua bertiga, apalagi sendiri, abangnya enggak akan mau bawa. Jadilah kami ganti-ganti angkot yang mau bawa kami kerumpin, padahal no angkot dan tujuannya ya sama aja.


Sesampainya di Rumpin kami registrasi masuk dahulu. Setiap orang dikenakan biaya Rp 5000,00. Jadi total semuanya Rp 15000,00


Awalnya sih biasa, jalanan datar, naik turunnya sedikit. Dikeliling oleh pohon-pohon besar. Masuk kedalam hutan. Sinyal ilang, dan kemudian pacar menyusul hilang juga.


Setelah hutan besar mulailah menanjak, Jalurnya disana itu tangga. Buat saya tangga itu buat pegel. Makanya saya kurang suka kalo tracknya tangga, saya lebih suka tanah yang buat saya mesti pegangan pohon kanan kiri. Biarpun tangga lebih aman sih.


Kanan kiri masih dikelilingi oleh pohon-pohon dan rerumputan. Sesekali juga dikelilingi oleh bayangan masa lalu. Terkadang, bisa melihat pemadangan kebawah, tapi masuk hutan lagi dan kemudian hilang lagi pemadangannya. Masuk kedalam hutan lagi. Yang terlihat juga akar dan daun, kadang juga bayangan kamu. Hahahaha.







Setelah melewati hutan-hutan, sampailah kita dipos kedua. Disitu kena biaya lagi, Rp 5000,00 jadi totalnya Rp 15000,00. Disana ada warung, ada juga tukang gorengan emperan gelar tiker dibawah. 


Ada juga saung-saung dan tempat duduk dari kayu gitu. Di Munara memang banyak-banyak warung, penduduk sekitar situ yang berjualan. Mungkin karena tidak terlalu tinggi dan sudah biasa jadi tidak masalah untuk mereka naik turun Munara. Sembari istirahat pun kita tidak lupa foto-foto di pos dua.





Lanjut perjalanan ke atas, setelah pos dua inilah mulai tracknya terasa. Ada seperti gua gitu yang dikelilingi sama pohon besar. Akar pohon gitu. Sepintas kelihatan bagus, tapi lumayan susah nanjaknya karena jaraknya berjauhan dari batu yang satu ke batu lainnya. Disamping gua akar pohon itu memang batu besar dan gua juga. Tapi saya enggak masuk kedalam situ. Saya takut akan kegelapan dan kesepian. Tapi disisi pinggirnya juga ada tanah-tanah gitu jadi enggak usah nanjak dari batu ke batu kalo enggak mau lewat batu-batu.







Setelah batu-batu tersebut jalanan menanjak lagi, tangga-tangga lagi, seperti biasanya, juga rindu-rindu lagi yang mulai terasa semakin menjadi. Sampailah kita di pos ketiga. Pos ketiga itu warung. Disitu kita berhenti, saya yang kelaparan dan langsung mesen indome. Yang lain juga nyusul makan indomie. Ternyata pada kelaparan, pantas pada pucat. 


Perjalanan emang tinggal sedikit lagi. tapi disinilah mulai terasa lelahnya. Iyalah lelah, tapi memang lelah yang dicari, semoga lelahku dan lelahmu membuat kita menyatu. Perjalanan makin sulit, jarak dari batu ke batunya mulai jauh, tangganya juga mulai terasa lebih tinggi daripada sebelumnya, entah cuma perasaan atau angan-angan saja atau kaminya yang terasa lelah bukan main.


Setelah 15 menit menaiki itu semua sampailah kita di atas. Hore, Galau telah tiba. Biasanya anak muda yang keatas akan foto, narsis, dan haha hihi ria. Tapi beda dengan kami. Kebetulan kami bertiga memang sedang galau, jadinya yang merenungi galau aja puncak Munara. 






selamat, anda masuk kedalam zona galau!


Ketika galau telah pergi dan lelah pun datang, saya lagi-lagi makan indomie. Padahal baru 15 menit sebelumnya saya makan indomie. Oh ya, di puncak Munara ini ada warung juga. Jadi kalo enggak bawa makan atau makanannya habis duluan enggak usah takut kelaparan. 


Tak terasa langit mulai terasa gelapnya, petir-petir saling bersahutan, dan kamu tetap menjadi angan-angan. Turunlah semua kita dari puncak. Dari puncak ke pos ketiga, hujan deras bukan main. Berteduhlah kita di pos tiga. Setelah kira-kira setengah jam, hujan agak reda sedikit tapi tidak benar-benar reda. Kami bertiga memutuskan untuk turun, karena kalo menunggu hujan benar-benar reda itu lama. Toh banyak warung dan saung sepanjang perjalanan, jadi kalo terasa deras banget ya bisa neduh.


Saat hujan, tanah menjadi licin juga batu menjadi ikutan licin. Karena bekas pijakan sebelumnya dibatu tersebut jadi ada bekas-bekas tanah yang licin. Saya yang lebih suka naik daripada turun jadi lebih lambat daripada biasanya. Turun lebih susah buat saya daripada naik, entah kenapa saya susah sekali ngerem walaupun jalan saya sendiri sudah miring. Apalagi ditambah hujan. Makin jadi.


Untuk menyiasatinya, saya jalan dialiran air. Emang sih jadi basah celana dan kaki saya. Tapi, tidak terlalu licin ketimbang jalan yang basah hanya kena air hujan. Sempat coba jalan dibukan aliran air, malah hampir kepleset. Yaudah saya jalan di aliran air lagi. Setiap ada saung, kita berhenti dan berteduh. Reda dikit kita jalan, reda dikit kita galau. 







Alhamdulillah setelah melewati badai, melewati hutan, melewati mantan, walaupun dipaksakan tetap bisa sampai bawah dan selamat sampai tujuan. Galau hilang, lelah pun datang. Agak nekat sih, udah perempuan semua, terus hujan badai, tetap dipaksakan. Alhamdulillah Allah masih melindungi. Sekian trip galau kali ini, sampai jumpa lagi!


You Might Also Like

2 comments